Sindroma Paraneoplastik

Sindroma Paraneoplastik adalah efek pada berbagai fungsi tubuh yang timbul di tempat yang jauh dari kanker (paling sering pada kanker paru-paru dan indung telur), seringkali menyerang sistem saraf.


PENYEBAB


Seberapa jauh tepatnya kanker bisa mempengaruhi sistem saraf, masih belum dimengerti sepenuhnya.

Beberapa kanker melepaskan zat-zat ke dalam aliran darah yang menyebabkan kerusakan jaringan melalui terjadinya reaksi autoimun.

Kanker lainnya melepaskan zat-zat yang secara langsung mempengaruhi fungsi sistem saraf atau menghancurkan beberapa bagian dari sistem saraf.

GEJALA

Sindroma paraneoplastik bisa menyebabkan sejumlah gejala neurologis, seperti pikun, perubahan suasana hati, kejang, kelemahan angota gerak atau seluruh tubuh, mati rasa, kesemutan, gangguan koordinasi, pusing, penglihatan ganda dan kelainan gerakan mata.

Efek yang paling sering terjadi adalah polineuropati, yaitu kelainan fungsi pada saraf tepi (saraf perifer, saraf yang berada di luar otak dan medula spinalis).
Penderita merasakan kelemahan, hilangnya rasa dan refleksnya menurun.
Dengan mengobati kanker, kadang polineuropati bisa mengalami perbaikan.

Bentuk polineuropati yang jarang terjadi adalah neuropati sensorik subakut, yang kadang timbul sebelum kankernya terdiagnosis.
Penderita merasakan hilangnya rasa dan gangguan koordinasi, disertai kelemahan yang ringan.

Zat-zat yang dihasilkan oleh kanker bisa menimbulkan efek yang berbeda.
Kanker payudara dan indung telur kadang menghasilkan zat yang tampaknya merangsang suatu autoantibodi untuk menghancurkan otak kecil (serebelum) dan menyebabkan degenerasi sereberal subakut.
Gejalanya berupa langkah goyah, gangguan koordinasi lengan dan tungkai, kesulitan dalam berbicara, pusing dan penglihatan ganda; yang bisa muncul beberapa minggu, bulan bahkan tahun sebelum kankernya terdiagnosis.
Degenerasi serebelar subakut biasanya akan bertambah parah dalam waktu beberapa minggu atau bulan.
Sebelum kankernya ditemukan, penyakit ini sulit terdiagnosis, walaupun hasil pemeriksaan CT scan dan MRI menunjukkan hilangnya jaringan otak di serebelum.
Kadang penyakit ini menunjukkan perbaikan, setelah kankernya terobati.

Neuroblastoma (kanker pada masa kanak-kanak) kadang menyebabkan gejala yang ditandai dengan pergerakan mata yang tak terkendali dan terjadi secara tiba-tiba.
Juga terjadi gangguan koordinasi disertai kekakuan, kejang dan kontraksi otot di seluruh tubuh, lengan dan tungkai.
Gejala tersebut seringkali berkurang jika kankernya diobati atau jika diberikan kortikosteroid (misalnya prednison).

Penyakit Hodgkin kadang secara tidak langsung mempengaruhi sel-sel saraf di medula spinalis dan menyebabkan kelemahan lengan dan tungkai dengan pola yang menyerupai polineuropati akut.
Keadaan ini biasanya diatasi dengan pemberian kortikosteroid.

Sindroma Eaton Lambert adalah sindroma paraneoplastik yang menyerupai miastenia gravis, yang bisa terjadi pada penderita kanker paru-paru.
Sindroma ini melibatkan antibodi yang mempengaruhi neurotransmiter (zat yang menghubungkan saraf dan otot).
Kelemahan bisa terjadi sebelum, selama atau setelah kankernya terdiagnosis. Kadang tidak ditemukan kanker sama sekali.
Penderita juga bisa merasakan kelelahan, nyeri dan kesemutan di lengan dan tungkai, mulut kering, kelopak mata menutup dan impotensi.
Refleks normal (misalnya refleks KPR) bisa menurun atau bahkan tidak ada sama sekali.

Gejala sindroma Eaton-Lambert akan menghilang jika kankernya diobati.
Kelemahan bisa berkurang dengan pemberian guanidin (obat yang merangsang saraf untuk menghasilkan zat-zat yang merangsang otot). Tetapi guanidin memiliki efek sampng yang serius, yaitu kerusakan pada sumsum tulang dan hati.
Pengobatan lainnya adalah plasmaferesis (pembuangan bahan-bahan racun dari dalam darah) dan pemberian kortikosteroid.

Kanker juga bisa menyebabkan kelemahan secara langsung pada otot.
Dermatomiositis dan polimiositis merupakan kelemahan otot pada batang tubuh.
Pada hidung dan pipi penderita tampak ruam keunguan dan terjadi pembengkakan di sekitar mata (ruam heliotrop).
Penyakit ini paling sering terjadi pada usia diatas 50 tahun, tetapi kadang menyerang orang-orang yang tidak menderita kanker.
Pengobatan dengan kortikosteroid (misalnya prednison) kadang efektif. (medicastore)