Gejala Alergi Sperma



Kondisi Anda dan pasangan menurut hasil pemeriksaan laboratorium normal, kok belum juga dikaruniai momongan? Segala upaya pun dicoba, termasuk berhubungan intim di masa subur, tapi hasilnya nol besar. Jika itu terjadi, kemungkinan besar karena mengalami alergi sperma. Namun, tak perlu khawatir, kalau ditangani secara benar, kehamilan masih bisa terjadi.

Untuk mengetahui secara pasti apakah seseorang mengalami alergi sperma atau tidak, memang harus menjalani pemeriksaan lebih jauh, yaitu pemeriksaan titer antibodi di dalam darah. Tujuannya untuk mengetahui apakah tubuh Anda membentuk antibodi terhadap sperma suami (alergi sperma) atau tidak.

Menurut Dr. Ponco Birowo, Sp.U, dari Bagian Urologi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, pemeriksaan titer antibodi baru dilakukan bila sebelumnya pemeriksaan dari dokter kandungan dan ahli andrologi normal.

Alergi sperma dapat terjadi karena sistem kekebalan (antibodi) terpapar oleh antigen sperma yang menyebabkan produksi antibodi terhadap sperma. Perlu diketahui, sperma yang terdiri dari satuan-satuan protein dan polisakarida ini termasuk salah satu antigen.

"Secara alami tubuh akan memberikan respon kekebalan terhadap benda asing (antigen) yang masuk ke dalamnya. Sistem kekebalan ini telah terbentuk sejak lahir," katanya.

Pada saat sperma masuk ke dalam reproduksi wanita, sistem imun mengeluarkan sekresi antibodi terhadap sperma, sehingga terjadi hambatan gerak di dalam vagina. Akibatnya, sperma tersebut tidak akan mencapai sel telur.

Meski demikian, mungkin saja ada sperma yang berhasil lolos. Jika ada sperma yang berhasil menerobos, kehamilan masih mungkin terjadi.

Infeksi vagina

Sistem imun bisa terbentuk karena dalam hubungan seksual terjadi perlukaan-perlukaan pada saluran genitalia yang menyebabkan lecet, sehingga sel darah putih keluar dan menyerang. Jadi, sistem imunnya dibangkitkan untuk membentuk antibodi terhadap sperma.

Bisa juga kondisi ini terjadi karena wanita sering keputihan atau infeksi saluran vagina. Dampaknya adalah sperma yang masuk akan menggumpal, sehingga "perjalanan" menuju sel telur terhambat.

"Terbentuknya antibodi terhadap sperma ini bukan cuma bisa terjadi pada wanita, tapi bisa juga pada si pria. Jadi, pria pun bisa membentuk antibodi terhadap spermanya sendiri," tutur Dr. Ponco.

Alergi sperma atau human seminal plasma protein allergy ini memiliki gejala mulai dari urtika atau bercak-bercak kemerahan. Selain itu, alergi sperma ini juga gejalanya berupa bengkak bahkan sampai ke muka dan seluruh tubuh, sesak napas, mual bahkan muntah, dan bisa juga merasa nyeri di sekitar panggul.

Gejala ini seperti dialami Dania (29 tahun). Masa-masa bulan madu tak seindah yang dibayangkan karena ia justru mengalami bercak-bercak merah seperti penyakit biduran hampir di seluruh tubuhnya, setiap kali berhubungan intim dengan suami tercinta. Ketika dokter keluarganya menyatakan kemungkinan adanya alergi sperma, konsultan pajak ini merasa sangat khawatir bakal sulit hamil.

"Bagaimana mau hamil kalau hubungan intim berakhir kondisi yang menyiksa seperti yang saya alami. Suami'kan jadi takut berhubungan (seksual)," ujarnya.

Solusi bayi tabung


Dampak kekhawatiran itu memang tak terhindarkan. Benar bahwa alergi sperma akan menurunkan persentase pasangan suami istri memiliki momongan. Hal ini terjadi karena si istri tidak dapat menerima sperma suami. Pada saat bersenggama pun harus menggunakan kondom. Bagaimana istri bisa hamil?

Untunglah, dengan semakin berkembangnya teknologi kedokteran, terutama di bidang obstetri dan ginekologi, kemungkinan yang kecil itu bisa diperbesar. Metode bayi tabung adalah salah satu solusi yang bisa dipilih pasangan suami istri yang mengalami alergi sperma, untuk bisa hamil.

Prosedur bayi tabung dimulai dengan perangsangan indung telur istri menggunakan hormon. Ini untuk memacu perkembangan sejumlah folikel. Folikel adalah gelembung yang berisi sel telur. Perkembangan folikel dipantau secara teratur dengan alat ultrasonografi dan pengukuran kadar hormon estradiol dalam darah.

Pengambilan sel telur dilakukan tanpa operasi, tetapi lewat pengisapan cairan folikel dengan tuntunan alat ultrasonografi transvaginal. Cairan folikel tersebut kemudian segera dibawa ke laboratorium.

Seluruh sel telur yang diperoleh selanjutnya dieramkan dalam inkubator. Beberapa jam kemudian, terhadap masing-masing sel telur akan ditambahkan sejumlah sperma suami (inseminasi) yang sebelumnya telah diolah dan dipilih yang terbaik mutunya.

Ditanam ke rahim

Setelah kira-kira 18-20 jam, akan terlihat apakah proses pembuahan tersebut berhasil atau tidak. Sel telur yang telah dibuahi sperma atau disebut zigot akan dipantau selama 22-24 jam, untuk dilihat perkembangannya menjadi embrio.

"Dokter akan memilih empat embrio terbaik untuk ditanamkan kembali ke dalam rahim. Empat embrio merupakan jumlah maksimal karena bila lebih dari empat, risiko yang ditanggung ibu dan janin akan sangat besar. Bahkan kehamilan tiga saja sudah bisa disebut kehamilan berisiko," ungkapnya.

Embrio-embrio yang terbaik itu kemudian diisap ke dalam sebuah kateter khusus untuk dipindahkan ke dalam rahim. Terjadinya kehamilan dapat diketahui melalui pemeriksaan air seni 14 hari setelah pemindahan embrio.

"Saat ini tingkat keberhasilan bayi tabung masih sekitar 25 persen. Angka ini berlaku di seluruh dunia, bukan hanya di Indonesia. Semakin muda umur istri, semakin besar peluang kehamilannya. Pada perempuan usia kurang dari 35 tahun, angka keberhasilan mencapai 30-33 persen, sedangkan pada perempuan berusia lebih dari 40 tahun, peluang kehamilan hanya delapan persen," tambahnya.

Gejala Alergi Sperma


• Gatat-gatal di kulit.
• Biduran.
• Bengkak pada bibir dan wajah.
• Dada terasa sesak.
• Sesak papas.
• Napas berbunyi (mengi).
• Pilek atau batuk.
• Bersin-bersin.
• Sakit kepala.
• Anafilaksis (reaksi alergi mendadak bersifat sistemik atau menyebar ke seluruh tubuh).
• Area genital gatal-gatal, kemerahan, bengkak, nyeri, atau terasa seperti terbakar.

Terapi Kondom


Supaya terjadi kehamilan, perlu penanganan khusus pada alergi sperma. Salah satunya dengan mengurangi kuantitas hubungan atau menggunakan kondom. Tujuannya agar vagina tidak terpapar sperma setiap kali berhubungan intim, sehingga rangsangan untuk terbentuknya antibodi dapat dihindari.

Kendati antibodi bisa menurun setelah lama tak terpapar sperma (antigen), jika nanti terpapar lagi, mungkin akan menumbuhkan reaksi sama. Jadi, setiap kali mau punya anak, harus melakukan terapi yang sama seperti tadi. "Terapi ini minimal dilakukan selama enam bulan," ujar Dr. Ponco.

Selanjutnya akan dilihat apakah titer antibodi istri menurun atau tidak. Bila tidak timbul antibodi akan dilanjutkan dengan program inseminasi atau pencucian sperma.

Inseminasi sebaiknya dilakukan saat istri sedang subur. Dan bila titer antibodi istri sangat tinggi akan dilakukan terapi steroid atau terapi bayi tabung.

Namun, perlu diwaspadai karena ada beberapa wanita yang justru alergi kondom karena karet dad kondom atau adanya zat antispermisid yang terkandung pada kondom. Zat ini digunakan untuk mematikan sperma.

"Bila terbukti alergi kondom, terapi kondom tidak bisa dilanjutkan," tuturnya.

Solusi lainnya terapi steroid, yaitu menekan antibodi dengan tablet atau suntikan. Terapi steroid juga ada efek sampingnya. Jika dilakukan dalam jangka panjang akan menimbulkan ketergantungan dan bisa menyebabkan kerusakan organ tubuh.

Cara lain lagi, yaitu pencucian sperma untuk terapi inseminasi. Terapi ini dilakukan bila kualitas sperma kurang baik. Caranya, suami akan diminta melakukan masturbasi. Kemudian sperma ditampung dalam suatu wadah dan dilakukan pencucian di laboratorium. Setelah itu, dipilih yang bagus dan dimasukkan ke rahim, sehingga sperma akan mencari sendiri sel telurnya.

Ada juga teknologi reproduksi, yaitu menyuntikkan sperma pada sel telur. Sel telur istri diambil dengan laparoskopi, lalu sel sperma suami yangg hidup dimasukkan ke dalam sel telur di laboratorium. Setelah itu, sel telur yang telah dibuahi sperma disuntikkan ke rahim.

Bahaya Alergi Sperma

Tanda-tanda alergi sperma terkadang tidak terlihat dengan jelas, dan bahkan tidak disadari. Tahukah Anda, alergi sperma bisa membahayakan, bahkan dapat menyebabkan kematian?

Menurut Dr. Ponco, alergi sperma ini mengakibatkan gejala sistemik. Maksudnya, alergi ini bisa menyebar ke semua bagian pembuluh darah di seluruh tubuh.

Jadi, akibat dari alergi sperma ini tidak hanya akan dirasakan penderitanya di sekitar alat kelamin, tetapi juga di bagian tubuh yang lain. Contohnya, bengkak di muka atau juga pembengkakan di saluran pernapasan.

Pembengkakan di saluran pernapasan inilah yang bisa berakibat fatal, atau yang sering disebut anavilaktik. "Alergi tersebut menyebar ke pembuluh darah sampai bagian saluran pernapasan, sehingga akan menyebabkan pembengkakan," ujar Dr. Ponco.

Pembengkakan itu kemudian bakal menutup saluran pernapasan, sehingga akan terjadi sesak napas. Jika sudah sesak napas, risiko yang paling fatal adalah kematian. Karena itu, jangan anggap ringan penyakit alergi, apalagi untuk alergi sperma. (senior)