Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Penyakit Leukemia Pada Anak



Salah satu kanker yang paling banyak diderita oleh balita adalah leukemia. Bisakah disembuhkan?

“Saat anak saya, Daniel, divonis dokter menderita leukemia, dunia saya serasa runtuh. Rasanya tidak ada lagi harapan dan saya terus menyalahkan Tuhan,” cerita Santi. “Bagaimana mungkin Daniel yang baru berusia 8 tahun menderita leukemia? Padahal waktu itu saya membawanya ke dokter karena Daniel sering sekali demam selama sebulan terakhir.”

Penyakit memang tidak dapat diduga datangnya. Namun, jika anak menderita penyakit berat pada usia yang masih sangat muda, orang tua mana yang tega? Leukemia, adalah salah satu penyakit yang cukup menjadi momok saat ini, berkat perannya di dalam sinetron dan drama-drama Korea. Apa sebenarnya leukemia, apa tanda-tandanya, mengapa berbahaya, kami ulas semua itu untuk Anda.

Kanker Sel Darah Putih
Sebagai salah satu penyakit paling populer di ranah persinetronan, memang semakin banyak masyarakat yang mengenal leukemia. Leukemia alias kanker darah yang digambarkan oleh para aktor dan aktris sering berakhir dengan umur pendek dan meninggalkan kisah cinta yang tragis. Padahal, leukemia dikenal sebagai salah satu jenis kanker tersering pada anak-anak dan remaja. Maka tidak heran jika orang semakin waswas jika anaknya tampak pucat atau hasil pemeriksaan darahnya tidak normal. Jangan-jangan leukemia.

Dikatakan oleh dr. Ronald Hukom, SpPD-KHOM, darah kita mengandung empat komponen utama, yaitu sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), sel pembekuan darah (trombosit), dan cairan penampung sel (plasma) yang diproduksi oleh sumsum tulang. Leukemia adalah kanker yang berasal dari sel-sel pembentuk darah. Meskipun leukemia biasanya dimulai oleh sel pembentuk leukosit, tetapi ada juga leukemia yang disebabkan oleh sel lain. Pada penderita leukemia, sumsum tulang akan memproduksi sel darah dalam jumlah berlebihan. Namun, sel yang banyak ini tidak dapat berfungsi dengan baik karena bentuknya juga tidak normal.

Selain tidak normal, sel-sel leukemia juga lebih cepat berkembang dan tidak mati saat seharusnya sudah mati. Seiring waktu, jumlah sel yang tidak normal dapat lebih banyak dibanding sel-sel darah yang normal. Akibatnya, kerja eritrosit sebagai pengangkut oksigen dan trombosit sebagai pembeku darah juga menjadi terganggu. Inilah yang menyebabkan mengapa penderita leukemia tidak hanya mudah mengalami infeksi, tetapi juga sering mengalami anemia berat dan mudah memar atau berdarah. Sel-sel leukemia juga dapat menyebar ke kelenjar limfe dan organ lainnya, menyebabkan pembengkakan dan rasa nyeri yang hebat.

3 dari 4 kasus leukemia pada anak dan remaja merupakan leukemia limfositik akut (LLA), dan sisanya biasanya merupakan leukemia mielogenik akut (LMA). LLA paling banyak terjadi pada anak berusia sangat muda, yaitu antara 2 hingga 4 tahun. Sedangkan kasus AML dapat terjadi di sepanjang masa kanak-kanak, meski sedikit lebih sering pada ank berumur kurang dari 2 tahun atau yang sudah memasuki masa remaja. Leukemia kronik jarang ditemukan pada anak-anak. Jikapun ada, biasanya merupakan leukemia mielogenik kronik (LMK), yang cenderung mengenai remaja.

Gejala Umum
“Saya sungguh tidak menyangka. Saya kira, leukemia sudah pasti disertai dengan mimisan dan sering pingsan,” curhat Bu Santi. Banyak orang yang berpikiran sama seperti Bu Santi. Mereka mengira bahwa leukemia pasti menimbulkan gejala berat. Padahal, gejala dapat ringan-ringan saja dan tidak terlihat atau tidak disadari. Meski leukositnya banyak, tapi sel-sel ini tidak dapat melindungi tubuh dari kuman penyebab penyakit. Akibatnya, anak sering demam atau menggigil tanpa sebab yang jelas, merasa lemas terus-menerus, dan bolak-balik sakit atau terkena infeksi.

Sel leukemia juga dapat menyebar ke tempat lain, seperti ke kelenjar getah bening dan hati atau limpa, sehingga ukurannya membesar. “Berat badan bisa turun dan jadi tidak nafsu makan. Anak bisa mudah memar atau berdarah meski hanya terbentur ringan,” jelasnya. Gejala lainnya adalah batuk dan sesak nafas, sering mimisan, timbul bintik-bintik merah pada kulit, keringat berlebihan terutama pada malam hari, serta nyeri pada tulang. Jika sel leukemia sudah menyebar ke otak, dapat timbul gejala berupa nyeri kepala, kejang, serta muntah.

Pemeriksaan Leukemia
Apakah leukemia dapat terlihat melalui pemeriksaan darah biasa? Jawabnya adalah bisa. Penderita leukemia seringkali baru diketahui penyakitnya dari pemeriksaan darah karena sakitnya tidak sembuh-sembuh atau terjadi berulang kali. Pada pemeriksaan darahnya ternyata ditemukan kadar leukosit yang sangat sangat tinggi, disertai dengan anemia dan trombositopenia. Namun, perlu dicatat bahwa hasil pemeriksaan darah tepi tidak dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis leukemia, hanya menunjukkan kecurigaan.

Orang tua terkadang terlampau kuatir bahwa anaknya mengalami leukemia. Begitu anak terlihat pucat, sering mimisan dan demam, orang tua langsung panik dan mengatakan kepada dokter bahwa anaknya mungkin menderita leukemia. Meskipun hasil laboratorium menunjukkan bahwa anak mengalami anemia atau trombositnya turun, bukan berarti anak mengalami leukemia. Penyebab anemia dan penurunan jumlah trombosit dapat disebabkan oleh banyak hal, dan jarang disebabkan oleh leukemia.

Jika terdapat kecurigaan, hal ini harus dipastikan melalui pemeriksaan lain yang lebih akurat. “Dokter akan menanyakan secara detil riwayat kesehatan anak dan riwayat penyakit pada keluarga. Setelah itu, diperlukan pemeriksaan laboratorium untuk menunjukkan jika memang terdapat leukemia,” jelasnya. Di antaranya adalah dengan memeriksa sebagian jaringan atau cairan dari sumsum tulang. Dokter juga mungkin menganjurkan pengambilan cairan otak melalui pungsi lumbal dan mengambil sebagian jaringan kelenjar getah bening untuk diperiksa.

Selain pemeriksaan untuk mencari bukti leukemia, pemeriksaan juga dilakukan untuk menyingkirkan penyakit-penyakit lain yang mungkin menyebabkan timbulnya gejala penyakit atau hasil pemeriksaan yang abnormal.

Beberapa Anak Lebih Rentan
Sama seperti kebanyakan kanker, penyebab leukemia pada anak tidak diketahui dengan pasti. Namun, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko anak untuk mengalami leukemia, yaitu:

Penyakit genetik seperti sindroma Li-Fraumeni, sindroma Down, atau sindroma Klinefelter.
Gangguan sistem imun genetik seperti ataksia telangiektasia.
Memiliki kakak atau adik dengan leukemia, terutama yang kembar identik.
Riwayat terpapar radiasi tingkat tinggi, kemoterapi, atau bahan kimia seperti benzena.
Riwayat penekanan sistem imun, misalnya pada yang mendapat transplantasi organ.
Makin banyak faktor risiko yang dimiliki tidak berarti bahwa risiko makin besar. Ada banyak orang yang memiliki faktor-faktor risiko ini tapi tidak pernah mengalami leukemia. Bahkan, banyak anak yang mengalami leukemia tapi tidak memiliki faktor-faktor tersebut. Meski demikian, anak dengan faktor risiko dianjurkan untuk memeriksakan diri secara teratur agar jika terjadi sesuatu dapat cepat diketahui. Leukemia biasanya mulai muncul pada saat anak berusia 2 tahun tanpa gejala sebelumnya. Beberapa jenis leukemia lebih banyak mengenai anak yang sudah memasuki masa pubertas.

Membuat Infeksi Ringan Menjadi Berat
Sama seperti keganasan atau kanker lainnya, sel-sel leukemia dapat menggerogoti tubuh anak, terutama dalam hal kekebalan tubuhnya. “Sel-sel leukemia menyebabkan tubuh tidak dapat melawan infeksi dengan baik,” jelasnya. Bahkan penyakit ringan seperti flu saja dapat berdampak serius dan menyebabkan kematian. Karena itu, pada saat sistem imun sangat rendah, anak dengan leukemia mungkin perlu diisolasi dan dirawat di ruangan khusus yang steril.

Selain rentan terkena infeksi, anak menjadi mudah berdarah. Bila pembuluh darah yang pecah terjadi di tempat-tempat penting, hal ini dapat membahayakan jiwanya. Meski demikian, anak biasanya tetap dapat melakukan aktivitas layaknya anak-anak yang sehat. Leukemia dapat menyebabkan anak menjadi kekurangan darah atau anemia, sehingga selalu tampak pucat dan lemah luar biasa.

Terapi
Terapi leukemia harus disesuaikan dengan jenis leukemianya. Terapi utama untuk leukemia pada anak-anak adalah kemoterapi. Pada anak yang risiko leukemianya lebih tinggi, terapi dapat ditambah dengan terapi stem cell. Pada kasus-kasus khusus, anak juga dapat diberikan terapi target, pembedahan, dan terapi radiasi.

Terapi leukemia pada anak-anak biasanya sangat intensif sehingga perlu dirawat di rumah sakit khusus kanker. Anda perlu tahu dan mempelajari efek-efek samping pengobatan, lama efek samping berlangsung dan apakah efek tersebut dapat berdampak serius pada kesehatan anak. Jangan lupa untuk memberitahukan kepada dokter jika ada obat herbal atau pengobatan alternatif lain yang Anda berikan kepada anak.

Dengan pengobatan yang baik, leukemia dapat disembuhkan. Meski demikain, anak harus dibawa ke dokter untuk pemeriksaan rutin karena ada kemungkinan leukemia datang kembali. Anak juga harus selalu dijaga kebersihannya dan dicegah agar tidak mudah tertular penyakit.

Krisis Untuk Seluruh Keluarga
Saat anak terdiagnosis mengalami leukemia, tidak hanya fisiknya yang menderita tetapi juga perasaannya. Bahkan, kenyataannya tidak hanya anak, melainkan dampak juga dirasakan oleh kedua orang tua, saudara kandung, dan keluarga besar si anak. Kehidupan dan rutinitas keluarga akan terganggu. Orang tua tidak dapat bekerja, saudara-saudara kandung si anak mungkin terpaksa harus dititipkan ke orang lain. Selain itu, karena orang tua sibuk mengurus anaknya yang sakit, maka anak-anak yang lain dapat merasa dirinya terlantar dan tidak diperhatikan. Orang tua juga harus dihadapkan pengambilan keputusan yang berat mengenai pengobatan, pemeriksaan, dan prosedur yang dianjurkan dokter.

Untuk anak yang menderita leukemia sendiri, reaksi terhadap penyakitnya dapat berbeda-beda. Meskipun anak mungkin belum mengerti, tetapi mereka dapat merasa frustasi dan marah karena tidak dapat melakukan aktivitas seperti biasanya, dan harus berkutat dengan jarum, obat, dan sebagainya. Reaksi setiap anak dapat berbeda, dan ini juga bergantung pada usia anak. Dalam hal ini, orang tua lagi-lagi harus menjelaskan kepada anak bahwa hal ini harus dijalani agar ia cepat sembuh.

Untuk membantu keluarga dan si sakit secara psikologis, ada beberapa cara yang dapat dilakukan. Di antaranya mencari informasi yang tepat sebanyak mungkin mengenai leukemia dan berkumpul bersama sesama penderita leukemia. Berbagai kisah dan pengalaman dapat membantu keluarga utnuk menghadapi kenyataan dengan lebih baik.